Surabaya-Hari ini, persoalan korupsi di berbagai sektor semakin menjadi-jadi, salah satunya korupsi terhadap sektor sumber daya alam, khususnya bagi masyarakat Karst Kendeng. Persoalan antara warga Kendeng dengan PT. Semen Indonesia terkait dengan izin pabrik dan dampaknya yang merusak terhadap lingkungan dan mata pencaharian warga, hal tersebut adalah model-model korupsi yang sampai saat ini marak terjadi.

Dalam momentum pendirian Pusat Kajian dan Pengembangan Anti-Korupsi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya (PKP-AK FH UMSurabaya) melakukan refleksi dan solidaritas dengan bentuk simbol 100 kendi untuk solidaritas Kendeng. Media kendi dipilih sebagai simbol mata air air yang patut dijaga bersama, khususnya Pemerintah agar peruntukannya tidak disalahgunakan untuk kegiatan korupsi.

Dekan FH UMSurabaya, M. Hari Wahyudi.,SH.,MH. Menyatakan bahwa, melalui PKP-AK FH UMSurabaya diharapkan agar dapat sinergis dengan KPK-RI dan entitas kelembagaan anti-korupsi lainnya dalam rangka pemberantasan “kasus-kasus yang marak terjadi di daerah, salah satunya di Jawa Timur perlu dicari solusi bersama, kedepan PKP-AK FH UMSurabaya diharapkan agar mendukung penuh aparat penegak hukum dan pemberantasan korupsi salah satunya dalam sektor sumber daya air dapat diberantas”. Ujarnya.

Selanjutnya, menurut Wakil Rektor 1 UMSurabaya, Dr. A. Aziz Alimul Hidayat., M.Kes, menyatakan bahwa dukungan penuh terhadap pemberntasan korupsi di Indonesia melalui PKP-AK FH UMSurabaya, “kami telah berkomitmen penuh terhadap seluruh sivitas akademika terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia, salah satunya melalui kurikulum anti korupsi, kader-kader anti-korupsi dan sebagainya ”. imbuhnya.

Acara yang diselenggarakan pada Selasa (13 Desember 2016) di Gedung G Lantai 6 UMSurabaya dihadiri ratusan mahasiswa di seluruh kota surabaya serta seluruh sivitas akademika di lingkunagn UMSurabaya.