SELAMA belajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya, M. Diksa Nuraksa didampingi dosen pembimbing. Dosen itu bernama Satria Unggul. Satria mendampingi para mahasiswa difabel yang tengah melangsungkan studi di kampus tempat dirinya mengabdi.

Diksa dan dua mahasiswa difabel lainnya merupakan mahasiswa yang ikut program beasiswa difabel berdaya. Program rektor UMS itu menyasar para mahasiswa difabel dengan memberikan beasiswa penuh. Terutama penyandang tunadaksa. ’’ Tahun ini fokusnya tunadaksa, tidak tertutup kemungkinan pada penyandang disabilitas yang lain,’’ katanya. Satria berpendapat, mindset masyarakat harus dibuka. Terutama keluarga para penyandang disabilitas yang ingin melanjutkan studi. Keluarga, tambah dia, kurang memotivasi. ’’ Buat apa sekolah tinggi-tinggi, begitu kata mereka. Pandangan ini harus diubah,’’ ujarnya.

Komitmen membangun para penyandang disabilitas agar semakin berdaya harus dijalankan. Komitmen itu dimulai dari beragam aspek. Termasuk fasilitas umum, kurikulum, maupun bahan ajar. Bahan ajar disiapkan sesuai dengan kemampuan para difabel. Termasuk jika ada ’’ mahasiswa tunanetra. Mungkin diktat kuliah bisa dengan rekaman,’’ tuturnya. Mengenai Diksa yang punya potensi menyanyi, kantin kampus tidak tertutup kemungkinan akan diop timalkan. Setidaknya Diksa bisa menghibur pengunjung kantin. ’’ Itu bisa menjadi lab tersendiri supaya mahasiswa juga punya peran,’’ jelasnya. Satria berharap para mahasiswa difabel setidaknya memiliki karakter yang berbeda dengan mahasiswa lain. Termasuk semangatnya. Dalam keterbatasan, mereka tetap bisa mengembangkan potensi. Bahkan, bisa menjadi praktisi hukum yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. (puj/c15/jan).

Sumber; Jawa Pos