Surabaya-Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (16/11) mengadakan Kuliah Tamu “Comparison Of US and RI Legal System In Addressing Transnational Crime”. Hadir memberikan pengalaman dan memberikan kuliah pada mahasiswa Fakultas Hukum Jared Courtland Kimball (Resident Legal Advisor, USDOJ OPDAT Jakarta) dan Morisson C. England, Jr. (US District Judge of the US. District Court for the Eastern District of California).

Jared Courtland Kimball, memulai dengan perkenalan diri, ia bercerita bahwa latar belakang pendidikan hukum belajar di salah satu perguruan tinggi di Washington, kemudian ekspertasi pada kejahatan transnasional, seletah lulus sarjana hukum kemudian mengambil ujian untuk pengacara, dan mendaftar sebagai jaksa federal. Jared Courtland Kimball menjelaskan Hubungan jaksa dan poliisi di Amerika Serikat lebih erat daripada hubungan antara jaksa dan polisi di Indonesia. Selain itu Sistem hukum yang berbeda adalah di AS ada sistem advestorial dimana para pihak yang akan beradu alat bukti, sedangkan di Indonesia bersifat Hakim yang akan menemukan kebenaran. Di Indonesia yang menentukan arah persidangan adalah Hakim, sedangkan di Amerika yang menentukan pertanyaan adalah Jaksa, namun bukan berarti kewenangannnya terbatas, hanya saja kewenangannya untuk bertanya, namun keputusan tetap diberikan kepada juri untuk keputusan hukumnya. Penentuan pemeriksaan perkara baik yang dilakukan dengan memerlukan Juri atau tidak membutuhkan juri adalah bergantung berdasarkan kasus hukumnya. Hakim dan dewan juri berkoordinasi untuk menentukan alat bukti, bertanya kepada dewan juri, dan menjawab pertanyaan dari dewan juri jika ada. Karena sistem hukum ini merupakan warisan dari zaman penjajahan Inggris yang dapat ditarik dari konteks Magna Charta dan hukum di era Yunani Kuno.

Sejarah tentang Juri dahulu sejak zaman koloni Inggris untuk mengatasi Hakim korup yang memperlakukan masyarakat Amerika Serikat secara tidak adil. Ada juga kasus-kasus kapten kapal dagang AS ditangkap secara tidak adil oleh pemerintah Inggris. Akhirnya dirumuskan konstitusi AS (Magna Charta) untuk memasukkan mekanisme juri agar setiap kelputusan pengadilan lebih adil dan juri tidak gampang disuap, Juri dipilih melalui seleksi dari pengadilan dan memenuhi syarat untuk menjadi juri. Banyak orang takut bahwa juri itu berpihak di Jaksa atau terdakwa, namun itu semua dapat diatasi melalui seleksi yang dilakukan oleh pengadilan yang diwakili oleh Hakim. Dan kebanyakan yang mempunyai itikad tidak baik dan bias tidak dapat dipilih.

Seperti narasumber pertama, Morisson C. England, Jr. Juga memulai dengan memperkenalkan diri. Ia menempuh pendidikan strata hukum selama 4 tahun lamanya sambil bekerja, dan kemudian setelah lulus saya mengambil ujian advokat di negara bagian California. Morisson C. England, Jr menjadi pengacara di bidang swasta khususnya bidang hukum dagang, hukum bisnis, dsb secara swasta selama 15 tahun. Setelah itu ditunjuk oleh gubernur negara bagian california untuk menjadi seorang hakim di wilayah negara bagian tersebut selama 6 tahun. Kemudian oleh Presiden George W.Bush dan seleksi di parlemen, menjadi salah satu hakim federal.

Amerika Serikat memiliki tiga kekuasaan kehakiman yang saling berintegrasi. Untuk kegiatan pendakwaan dilaksanakan oleh kekuasaan eksekutif (Jaksa), Hakim tidak berwenang untuk memulai suatu kasus sebelum ada tuntutan dari jaksa. Jaksa akan mendaftarkan ke pengadilan yang melibatkan terdakwa (govern attorney) dan didampigi oleh Pengacara (deffense attorney) yang kemudian disampaikan kepada Hakim dan kemudian ditindaklanjuti dalam proses persidangan dan saya akan menentukan apakah alat bukti yang disampaikan oleh pengacara dan terdakwa itu menguatkan posisinya dan atau tidak.