BERITA

Dosen FH UMSurabaya Diundang Sebagai Peserta Workshop Penulisan Ilmiah Populer Kerjasama KPK-RI dan Kompas Institute

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerja sama dengan Kompas Institute mengadakan workshop Penulisan Ilmiah Populer bagi Akademisi antikorupsi yang bertajuk “Menarasikan Laporan dan Data dalam Penulisan Populer”. Workshop ini terselenggara karena adanya kebutuhan untuk mengkomunikasikan data dengan gaya yang lebih populer. Tujuannya agar masyarakat umum dapat lebih mudah memahami inisiatif antikorupsi yang dilakukan oleh para akademisi. “KPK ingin mendorong para akademisi, khususnya yang tergabung dalam jaringan akademisi antikorupsi dapat mempublikasikan hasil kajiannya tidak hanya di lingkungan kampus dan dunia pendidikan, tetapi juga kepada masyarakat luas,” kata Laode dalam paparannya, Kamis, 15 Agustus 2019, di Denpasar, Bali.

Laode juga memberikan tips kepada peserta bagaimana mengasah kemampuan menulis. Untuk bisa menulis, tambahnya, dimulai dari banyak membaca. Ia juga menyarankan kepada peserta untuk menemukan sumber inspirasi dan mengenali mood yang akan membuat seorang penulis produktif. “Menulis opini itu bukan mengajari pembaca, tetapi mengungkapkan perspektif Anda kepada masyarakat,” pesannya. Acara dilaksanakan selama dua hari, 14 – 15 Agustus 2019 bertempat di Hotel Ibis Styles Denpasar, Bali. Hadir sebagai narasumber, yaitu Pimpinan KPK Laode M. Syarif; Head of Program Kompas Institute Sulyana Andikko; Peneliti Kajian Sosial, Politik & Budaya Litbang Kompas Irene Purwananti, dan Jurnalis Harian Kompas Putu Fajar Arcana.

WhatsApp Image 2019-08-15 at 14

Para peserta workshop berjumlah total 16 orang. Mereka adalah akademisi yang terpilih dengan beberapa persyaratan, salah satunya telah mengirimkan kerangka tulisan yang akan dikembangkan menjadi artikel antikorupsi. Para akademisi ini juga merupakan champion antikorupsi lintas disiplin ilmu dan menjadi perwakilan dari 16 Universitas/Sekolah Tinggi/Institut/Politeknik di Bali, Surabaya, Malang, Jember dan Madura. Selain itu, para akademisi tersebut juga aktif dalam kegiatan antikorupsi dengan menjadi dosen mata kuliah antikorupsi, peneliti pada pusat kajian antikorupsi (PUKAT) ataupun menjadi penyuluh antikorupsi, salah satu peserta yang terpilih adalah Satria Unggul W.P.,SH.,MH, Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya sekaligus Pegiat Anti-Korupsi UMSurabaya

Satria menuturkan bahwa program ini sangat bermanfaat untuk peningkatan publikasi akademisi berbasis karya ilmiah popular “kegiatan ini memicu saya untuk terus produktif menulis dan menyebarluaskan spirit anti-korupsi pada khalayal”, tuturnya.

 

WhatsApp Image 2019-08-15 at 19

KPK menilai bahwa publikasi artikel dan tulisan ilmiah populer tentang berbagai aspek pemberantasan korupsi masih sedikit jumlahnya. Karenanya, melalui workshop ini para akademisi dibekali pengetahuan untuk mengatasi keterbatasan dalam menyajikan data hasil kajian ilmiah ke dalam bentuk artikel dan tulisan ilmiah populer, selain juga diwajibkan untuk mempublikasikan minimal 2 tulisan tentang antikorupsi di media massa pasca pelatihan. Harapannya, tulisan-tulisan ilmiah populer tersebut dapat dikonsumsi masyarakat luas. Workshop yang sama sebelumnya juga pernah diadakan di Yogyakarta dan Palembang pada pertengahan dan akhir Juli 2019. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari implementasi AntiCorruption summit. Setelah Bali, KPK akan menyelenggarakan kegiatan serupa di Kota Surabaya, Padang dan Makassar.

 

Kategori