Artikel

Goresan Prestasi di Kancah Global: Dekan FH UM Surabaya, Satria Unggul WP, S.H., M.H., Terpilih Ikuti Kursus HAM Bergengsi di Norwegia

  • Di Publikasikan Pada: 03 Sep 2025
  • Oleh: Admin
  • 0


Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) kembali menorehkan tinta emas dalam peta pendidikan global. Dekan FH, Satria Unggul WP, S.H., M.H., berhasil terpilih sebagai salah satu peserta dari 30 individu terpilih dalam  Intensive Course on Human Rights yang diadakan oleh Norwegian Centre of Human Rights di Universitas Oslo, Norwegia. Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan bukti nyata komitmen dan kapabilitas FH UM Surabaya di kancah internasional. Prestasi ini sangat membanggakan, mengingat kursus ini diikuti oleh hampir 4.000 pelamar dari akademisi dan praktisi di seluruh dunia yang bergelut di bidang hak asasi manusia.

Seleksi yang ketat ini menghasilkan hanya dua delegasi dari Indonesia, dan Bapak Satria Unggul WP menjadi satu-satunya perwakilan universitas dari Indonesia di tahun 2025 ini. Fakta ini menegaskan bahwa kualitas dan reputasi FH UM Surabaya diakui secara global, sejalan dengan visi universitas untuk menjadi institusi pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing internasional. Keikutsertaan ini juga membuka pintu kolaborasi dan pertukaran pengetahuan yang lebih luas, memperkuat posisi FH UM Surabaya sebagai pusat kajian hukum yang progresif.

Pemilihan Norwegia sebagai lokasi kursus HAM ini memiliki makna yang mendalam. Negara ini dikenal sebagai pusat perkembangan dan peradaban hukum hak asasi manusia dunia. Universitas Oslo, tempat kursus ini diselenggarakan, adalah salah satu institusi paling prestisius, yang terkenal karena merupakan tempat lahirnya tradisi Nobel Laureate. Penghargaan paling bergengsi, termasuk Nobel Perdamaian, diberikan di sini, mengukuhkan peran Norwegia sebagai motor penggerak isu HAM global.

Selama berada di Oslo, Bapak Satria Unggul WP akan berinteraksi dengan 29 peserta lainnya yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia, termasuk dari Eropa, Asia, dan Afrika. Mereka akan berkumpul untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan tentang isu-isu HAM kontemporer. Kursus ini dijadwalkan berlangsung dari 31 hingga 7 September 2025. Namun, sebagai bagian dari dedikasi akademisnya, Bapak Satria berencana untuk memperpanjang masa tinggalnya hingga 12 September untuk melakukan riset yang lebih mendalam, memaksimalkan setiap momen di lingkungan akademik yang sangat inspiratif ini.

NCHR Intensive Course tidak hanya fokus pada kajian hukum HAM konvensional, tetapi juga mendalami perkembangan terbaru dan tantangan yang muncul dalam diskursus internasional. Program ini dirancang secara multidisiplin , dan para pesertanya terdiri dari beragam latar belakang, mulai dari pembela HAM, pejabat pemerintah, perwakilan LSM, hingga praktisi hukum. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengintegrasikan standar HAM ke dalam pekerjaan sehari-hari dan memberikan pemahaman sistematis tentang sistem HAM internasional.

Salah satu topik penting yang akan dipelajari adalah hubungan antara bisnis dan hak asasi manusia. Kursus ini akan mengeksplorasi bagaimana perusahaan multinasional mematuhi prinsip-prinsip hukum HAM dalam kegiatan bisnis mereka. Selain itu, kursus ini juga akan mengkaji isu-isu terkini seperti kecerdasan buatan (AI) dan hak asasi manusia. Peserta akan membahas tantangan yang muncul dari penggunaan AI, termasuk pengawasan data pribadi yang merugikan masyarakat dan bagaimana AI digunakan untuk merepresi hak-hak individu. Diskusi ini sangat relevan mengingat pesatnya perkembangan teknologi dan dampaknya pada kehidupan sehari-hari.

Kursus ini juga membahas bagaimana perkembangan hukum HAM internasional memengaruhi hukum nasional dan situasi politik suatu negara. Pemahaman ini sangat penting bagi Dekan Satria Unggul WP, karena akan menjadi bekal berharga untuk menganalisis dan memberikan masukan terkait reformasi hukum di Indonesia.

Keberangkatan Dekan Satria Unggul WP ini didukung penuh oleh NORAD (Norwegian Agency for Development Cooperation) , salah satu lembaga pendanaan dari Norwegia. Dukungan finansial ini mencakup biaya perjalanan, akomodasi, dan makanan selama masa tinggal peserta. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa FH UM Surabaya memiliki rekam jejak yang baik dalam mengelola pendanaan, baik dari dalam maupun luar negeri, dan menunjukkan komitmen yang kuat dalam aktivitas akademiknya di kancah global.

Dukungan finansial dari lembaga internasional seperti NORAD juga menunjukkan bahwa aktivitas dan kapabilitas FH UM Surabaya diakui dan dipercaya oleh lembaga luar negeri. Ini adalah bukti konkret bahwa FH UM Surabaya sangat mumpuni dan tidak perlu ragu untuk berinteraksi di pergaulan internasional. Dekan Satria Unggul WP mengungkapkan rasa syukurnya, "Ini juga menunjukkan komitmen FH UM Surabaya di kancah global, bagaimana aktivitas engagement dari civitas akademika itu tidak perlu takut, tidak perlu gusar, karena sejatinya kita semua memiliki kesempatan yang sama, akses yang sama di dalam pergaulan internasional".

Sekembalinya dari Norwegia, Bapak Satria berencana untuk mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya. Pengetahuan dari kursus ini akan menjadi modal yang sangat penting, tidak hanya untuk kajian akademik, tetapi juga untuk memberikan rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi para pengambil keputusan. Beliau berharap, ilmu yang didapatnya dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya reformasi dan pembaharuan hukum hak asasi manusia di Indonesia. Rencana ini akan diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti tulisan, riset, atau policy brief. Hal ini merupakan salah satu langkah strategis FH UM Surabaya untuk tidak hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi juga menjadi agent of change yang berkontribusi langsung pada pembangunan hukum dan masyarakat.

Prestasi ini juga menjadi motivasi bagi seluruh civitas akademika FH UM Surabaya untuk terus mengejar kesempatan di tingkat internasional. Keberhasilan Dekan Satria Unggul WP menegaskan posisi FH UM Surabaya sebagai institusi yang aktif, kompeten, dan relevan dalam menyuarakan isu-isu global. Dengan demikian, FH UM Surabaya tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas, tetapi juga pemimpin masa depan yang berwawasan luas dan peduli terhadap isu-isu kemanusiaan global.